Follow Dashboard ★GirlsWhoLikeToTalk

The Owner of The Blog!

GirlsWithThoughts
My name's Laila Nabila. People call me Laila. Will be 21 this year. 12 Sept!!! Diploma in Accountancy.
Love: Multimedia, Art, Music, Photography, Editing (photos/videos), Blogging, Drawing, Cooking, Shopping, Make Up, Food, Money!!!
Love being crazy and act like a kids. Cause kids doesn't think about problem! Maybe?
Hate: Fake Friends, Judgemental, Bugs, Haters.
Follow Me!
Music

Chill, Relax. Just Listen to The Music while Reading My Entries ;)

Pardon My Words
Tuesday, 1 May 2012

Assalamualaikum =)
baca lah if sudi ye rakan-2 ku sekalian

sopan itu indah

Hari ini, aku tidak berhasrat untuk menulis panjang-panjang, namun cukuplah beberapa perkataan sebagai renungan. Kali ini, aku berhasrat untuk mengambil sebahagian pesanan Sheikh Ali Tantawi, seorang ulama’ Mesir yang tersohor, yang ditujukan kepada para muslimah di seluruh dunia, terutamanya kepada para remaja muslimah yang kian runtuh akhlaknya ini.
“Wahai puteriku, pintu pemulihan ada di hadapanmu. Kunci pintu itu ada di tanganmu. Jika engkau meyakininya dan engkau berusaha untuk memasuki pintu itu, maka keadaan akan berubah dan menjadi baik.

Engkau benar puteriku, bahawa kaum lelakilah yang mula-mula melangkah menempuh jalan dosa, bukan wanita. Tetapi ingat, bahawa tanpa kerelaanmu dan tanpa kelunakan sikapmu, mereka tidak akan berkeras melangkah maju. Engkaulah yang membuka pintu kepadanya untuk masuk.

Engkau berkata kepada pencuri: “Silakan masuk”.. dan setelah kecurian barulah tersedar. Ketika itu barulah engkau berteriak .. “Tolong.. tolong.. aku kecurian.”

Seandainya engkau tahu bahawa lelaki itu serigala dan engkau adalah kambing, pasti engkau akan berhati-hati dan sentiasa menjaga diri seperti waspadanya seorang yang kikir terhadap pencuri.

Jika yang dikehendaki oleh serigala dari kambing adalah dagingnya, maka yang diingini oleh seorang lelaki adalah lebih dari itu. Lelaki menginginkan lebih dari sekadar daging kambing.. Dan bagimu lebih buruk daripada kematian kambing itu.

Lelaki mengkehendaki yang paling berharga darimu… iaitu harga diri dan kehormatanmu. Nasib seorang gadis yang diragut kehormatannya lebih menyedihkan daripada nasib seekor kambing yang dimakan serigala.

Wahai puteriku.. demi Allah, apa yang dikhayalkan oleh pemuda ketika dia melihat gadis ialah gadis itu telanjang dihadapannya tanpa pakaian.

Aku bersumpah lagi: “Demi Allah, jangan percaya terhadap kata-kata sebahagian lelaki, bahawa mereka memandangmu kerana akhlak dan adab. Berbicara denganmu seperti seorang sahabat dan apabila mencintaimu hanyalah sebagai teman akrab”. Bohong..bohong.. bohong..Demi Allah dia berbohong. Seandainya engkau mendengar sendiri perbualan di antara mereka, pasti engkau akan takut dan ngeri.

Tidak akan ada seorang pemuda melontarkan senyumannya kepadamu, berbicara dengan lembut dan merayu, memberikan bantuan dan layanan kepadamu, kecuali akan ada maksud-maksud tertentu. Setidak-tidaknya isyarat awal bagi dirinya bahawa itu adalah langkah awal.

Apakah sesudah itu wahai puteriku?

Renungkanlah!” 

Semoga pesanan Sheikh Ali Tantawi ini akan kita hayati sepenuhnya maksudnya, seterusnya mengaplikasikannya dalam kehidupan seharian. Pesanan yang diberikan ini persis pesanan seorang ayah kepada anak perempuannya dan pesanan seorang datuk yang wara’ kepada cucunya yang masih kecil-penuh kasih sayang. Pesanan ini tentunya dibuat berdasarkan pengamatan beliau terhadap muslimah sekarang ini yang sudah seolah-olah hidup dalam kecelaruan yang tidak berpenghujung. Hayatilah pesanan ini seadanya.
Sememangnya aku mengakui bahawa kehidupan dalam era globalisasi ini amat mencabar bagi sebahagian muslimah. Kadang-kadang, kehendak nafsu kita sering bercanggah dengan tuntutan syara’. Sememangnya kehidupan dalam arus kemodenan ini memerlukan sejuta pengorbanan, dan sebagai seorang muslim, kita perlu berkorban apa-apa sahaja demi ad-Din yang tercinta!
Rasulullah pernah bersabda,
“Dunia ini perhiasan, dan seindah-indah perhiasan ialah wanita yang solehah”

Apa Maksud Hadits, “Wanita Kurang Akal dan Agamanya”?

Pertanyaan: Kita selalu mendengar hadits yang berbunyi, “Wanita itu kurang akalnya dan kurang agamanya.” Hadits ini diutarakan kaum lelaki kepada wanita untuk merendahkannya. Kami mohon penjelasan arti hadits tersebut..

Jawaban:

Arti hadits:

“Aku tidak melihat wanita yang kurang akalnya dan agamanya yang dapat menghilangkan kemauan keras lelaki yang tegas daripada seorang diantara kamu”

Para wanita shahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan kekurangan agama kami dan akal kami, ya Rasulullah?”

Jawab beliau, “Bukankah kesaksian seorang wanita itu setengah kesaksian seorang laki laki’? Mereka menjawab, “Ya”.

Beliau bersabda, “Itulah kekurangan akalnya. Dan bukankah apabila haid , wanita tidak melakukan shalat dan juga tidak berpuasa?” Mereka menjawab: “Ya.”

Rasululllah bersabda, “Itulah yang dimaksud kekurangan agamanya.”

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menjelaskan bahwa kekurangan akal wanita itu dilihat dari sudut ingatan yang lemah, maka dari itu kesaksiannya harus dikuatkan oleh kesaksian seorang wanita yang lain untuk menguatkannya, karena boleh jadi ia lupa, lalu memberikan kesaksian lebih dari yang sebenarnya atau kurang darinya, sebagaimana firman Allah,

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang orang lelaki diantaramu. Jika tidak ada dua orang lelaki, maka boleh seorang lelaki dan dua orang wanita dari saksi saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa, maka seorang lagi mengingatkannya.” (Qs. Al-Baqarah: 282)

Adapun kekurangan agamanya adalah karena di dalam masa haid dan nifas ia meninggalkan shalat dan puasa dan tidak mengqadha (mengganti) shalat yang ditinggalkannya selama haid atau nifas. Inilah yang dimaksud kekurangan agamanya. Akan tetapi kekurangan ini tidak menjadikannya berdosa, karena kekurangan tersebut terjadi berdasarkan aturan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dia-lah yang memberikan ketetapan hukum seperti itu sebagai wujud belas kasih kepada mereka dan untuk memberikan kemudahan kepada mereka. Sebab, jika wanita harus puasa di saat haid dan nifas, maka hal itu akan membahayakannya. Maka karena rahmat Allah atas mereka, Dia tetapkan agar mereka meninggalkan puasa di saat haidh dan nifas, kemudian mengqadhanya bila telah suci.

Sedangkan tentang shalat, di saat haid akan selalu ada hal yang menghalangi kesucian. Maka dengan rahmat dan belas kasih Allah subhanahu wa ta’ala Dia menetapkan bagi wanita yang sedang haidh agar tidak mengerjakan shalat dan demikian pula di saat nifas, Allah juga menetapkan bahwa ia tidak perlu pengqadhanya sebab akan menimbulkan kesulitan berat karena shalat berulang-ulang dalam satu hari satu malam sebanyak lima kali, sedangkan haidh kadang-kadang sampai beberapa hari — sampai tujuh–delapan hari bahkan kadang kadang lebih– sedangkan nifas, kadang kadang mencapai 40 hari.

Adalah rahmat dan karunia Allah kepada wanita, Dia menggugurkan kewajiban shalat dan qadhanya dari mereka. Hal itu tidak berarti bahwa wanita kurang akalnya dalam segala sesuatu atau kurang agamanya dalam segala hal! Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam telah menjelaskan bahwa kurang akal wanita itu dilihat dari sudut kelemahan ingatan dalam kesaksian; dan sesungguhnya kurang agamanya itu dilihat dari sudut meninggalkan shalat dan puasa di saat haid dan nifas. Dan inipun tidak berarti bahwa kaum lelaki lebih utama (lebih baik) daripada kaum wanita dalam segala hal. Memang, secara umum jenis laki laki itu lebih utama daripada jenis wanita karena banyak sebab, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Kaum laki laki itu adalah pemimpin pemimpin bagi kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki laki) atas sebagian yang lain (waniat) dan karena mereka (laki laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Qs.An Nisa’: 34)

Akan tetapi adakalanya perempuan lebih unggul daripada laki laki dalam banyak hal. Betapa banyak perempuan yang lebih unggul akal (kecerdasannya), agama dan kekuatan ingatannya daripada kebanyakan laki laki. Sesungguhnya yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam d iatas adalah bahwasanya secara umum kaum perempuan itu di bawah kaum lelaki dalam hal kecerdasan akan dan agamanya dari dua sudut pandang yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tersebut.

Kadang ada perempuan yang amal shalihnya amat banyak sekali mengalahkan kebanyakan kaum laki laki dalam beramal shalih dan bertaqwa kepada Allahu Subhanahu wa Ta’ala serta kedudukannya di akhirat dan kadang dalam masalah tertentu perempuan itu mempunyai perhatian yang lebih sehingga ia dapat menghafal dan mengingat dengan baik melebihi kaum laki laki dalam banyak masalah yang berkaitan dengan dia (perempuan). Ia bersungguh sungguh dalam menghafal dan memperbaiki hafalannya sehingga ia menjadi rujukan (referensi) dalam sejarah Islam dan dalam banyak masalah lainnya.

Hal seperti ini sudah sangat jelas sekali bagi orang yang memperhatikan kondisi dan perihal kaum perempuan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan zaman sesudahnya. Dari sini dapat diketahui bahwa kekurangan tersebut tidak menjadi penghalang bagi kita untuk menjadikan perempuan sebagai sandaran di dalam periwayatan, demikian pula dalam kesaksian apabila dilengkapi dengan satu saksi perempuan lainnya; juga tidak menghalangi ketaqwaannya kepada Allah dan untuk menjadi perempuan yang tergolong dalam hamba Allah yang terbaik jika ia istiqomah dalam beragama, sekalipun di waktu haid dan nifas pelaksanaan puasa menjadi gugur darinya (dengan harus mengqadha), dan shalat menjadi gugur tanpa harus mengqadha.

Semua itu tidak berarti kekurangan perempuan dalam segala hal dari sisi ketaqwaannya kepada Allah, dari sisi pengamalannya terhadap perintah perintahNya dan dari sisi kekuatan hafalannya dalam masalah masalah yang berkaitan dengan dia. Kekurangan hanya terletak pada akal dan agama seperti dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Maka tidak sepantasnya seorang lelaki beriman menganggap perempuan mempunyai kekurangan dalam segala sesuatu dan lemah agamanya dalam segala hal.

Kekurangan yang ada hanyalah kekurangan tertentu pada agamanya dan kekurangan khusus pada akalnya, yaitu yang berkaitan dengan validitas kesaksian. Maka hendaknya setiap muslim merlaku adil dan objektif serta menginterpretasikan sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, sebaik-baik interpretasi. Wallahu ‘alam…
Fatwa Syaikh Ibn Baaz: Majalah Al Buhuts, edisi 9 hal. 100.

Oraite, See U all at The Next Entry!

22:02

? ?
Hey!

Laila in the house!
16 February 2017


Peeps!

AmazingCounters.com



Layout by 16thday
Resources One Two Three